Minggu, 24 Juni 2012

Aku, Dia, dan Taruhan Bodoh

Ini kisah nyata dari temenku..
Cerita dimulai.. *cekidot


Janji. Bukankah harus ditepati?. Dan taruhan tak akan pernah memuaskan jika tidak menang. Sekarang ayo kita pikirkan caranya untuk menang.

Aku menyukainya. Lebih dulu dari wanita itu. Tapi aku harus menerima bahwa perempuan itulah yang memilikinya. Lama, butuh waktu aku untuk melupakannya. Tapi aku tak pernah benar-benar bisa melupakan ‘dia’. Seorang yang baru kukenal. Anggap saja namanya Wawan.
Mereka putus. Gak pernah kubayangkan hal ini terjadi. Seharusnya mereka putus tidak ketika kami masih bersama dalam satu kelas. Tapi sayangnya aku harus menerima keputusan mereka. Walaupun dalam hati aku merasa sia-sia melepaskan ‘dia’.
Aku tak yakin dia melupakan perasaannya pada mantannya. Itulah keyakinanku ketika kutanyakan padanya. Dia hanya diam, dan mengalihkan topik. Aku yakin sewaktu putus dari pihaknya merasa keberatan, tapi tak ada perasaan yang bisa dipaksakan. Termasuk perasaannya pada sang mantan.
Aku membuat keputusan bodoh. Aku yakin ini tak akan pernah benar-benar bermasalah. Aku berani taruhan bahwa aku tak akan pernah berpacaran sampai aku berumur 17 tahun bahkan sebelum aku berumur 16 tahun. Dengan orang yang sudah kuanggap adik di eskul ku. Dia setahun lebih muda. Sebaya dengan seorang playboy yang sempat dekat denganku.
Dia playboy. Seorang yang sudah punya pacar tapi masih mendekatiku. Aku sebisanya bersikap biasa saja. Yang dimaksudkan biasa adalah bersikap canggung satu sama laiin. Aku tak pernah benar-benar menyukainya. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Tapi kedekatanku dengannya berakhir begitu saja. Dan aku sempat merasa kehilangan. Setelah sekian lama, aku tak pernah berhhubungan lagi dengannya. Entah kenapa saat ini aku masih canggung dengannya. 
Bodoh. Aku tau aku bodoh. Kalau aku tahu ini akan terjadi aku tak akan membuat taruhan bodoh itu. Aku tak tahu dia menyukaiku. Tak pernah terpikir bahwa dia bisa menyukai gadis seprti aku dan tak pernah kubayangkan dimana perasaan ini akhirnya terbalaskan, dia sampai menembakku dua kali, akhin November dan pertengahan Desember. Tapi dibalik itu aku harus berpikir bagaiman harus memenangkan taruhan itu. Ya, aku memang serakah. Ingin memenangkan keduanya. Namun apa yang bisa kulakukan selain memenangkan keduanya. Mengalah? Oh, itu bukan sifatku.
Sekarang aku berputar-putar di jalan ini. Tak pernah berujung karena aku masih bimbang pada keduanya.
Seperti dongeng hidupku tiba-tiba tertimpa masalah percintaan yang rumit. Juniorku yang kuajak taruhan ternyata menyukaiku. Walaupn dia tak pernah bilang tapi aku tahu dari gerakgeriknya. Suatu hari kami berbicara tentang hubunganku dengan Wawan. Aku bersikeras mengatakan bahwa aku belum berpacaran dengannya, tapi dia tak dengarkan. Kemudian dia mendiamkanku begitu saja. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Secara tidak sengaja aku juga tahu dia sudah menghapus nomorku dari kontaknya, meremove ku di akun fb-nya. Sungguh keterlaluan. Stelah itu tiba-tiba dia memintaku untuk tidak mengenalnya lagi, memintaku untuk melupakan taruhan itu, memintaku untuk tidak menghubungiku sampai dia menemukan orang yang bisa menggantikan aku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku bingung. Awal januari seperti ledakan bom Nagasaki dan Hiroshima otak dan hatiku harus mempertimbangkan hal ini lebih keras. Wawan sudah menyerah untuk menungguku dan saat itu masih mengharapkan aku memilih keputusan yang terbaik.

Akhirnya aku menerimanya.

Aku resmi berpacaran dengannya walaupun masih dalam keraguan. Tapi aku tak ragu lagi setelah aku sadar ada laki-laki yang begitu menyayangiku. Aku hanya kurang bersyukur, wanita sepertiku mendapat laki-laki seperti dia.
Selama lebih dari dua bulan si Junior mendiamkanku, dia akhirnya menghubungiku lewat sms lagi. Aku tak mengerti. Akhirnya  kudengar dia punya pacar baru. Teman sekelasnya. Perlahan akhirnya di kembali lagi seperti dulu. Dengan sikap seolah-olah melupakan segala kebodohan yang aku buat dahulu.

Akhir yang bahagia bukan? Semuanya indah pada waktunya kan? 

Senin, 18 Juni 2012

Sorry, U Can't Make Me Galau (again)

Udah buka Ms. Word tapi malah bingung mau nulis apa. Yaah.. akhirnya gue putusin nulis sebuah cerita bergenre “curhat”. Waktu nulis ini, gue lagi galau tingkat internasional -_____- Kalian tau kan, masalah yang menyerang remaja apalagi kalo bukan karena CINTA. Nggak galau, nggak gaul =D

Cerita singkatnya gini..
Gue termasuk type orang yang mudah tertarik sama seseorang tapi juga mudah bosan. Tapi kalo udah nemu yang pas, gue setia kok. Hingga akhirnya gue ketemu dia. Tuhan mungkin mempertemukan kita hanya sebagai sahabat, tapi entah kenapa gue ngerasa “click” sama dia *Ciieehh.. udah kayak helm SNI aja yak =D..
Dia mungkin anggep gue temen. Gapapa sih,semasih bisa deket, why not ! Ya nggak ? Gue rela..Hehe..Obrolan kita selalu nyambung dalam berbagai hal. Yaa.. dia emang cowok yang smart. Selain itu dia juga jago maen tebak2an.Anaknya easy going, lucu pula.Dan gue terpesona. Dia cerita banyak hal ke gue, tentang keluarganya, tentang guru2 killer di sekolah, tentang mantan pacarnya, pokoknya banyak deh. Gue selalu berusaha jadi pendengar yang baik.
Tiap kali kita papasan di sekolah, dia selalu ngasi senyuman ke gue. Sumpah! itu bikin gue mati gaya.. Bikin gue melting...Jantung serasa mau pindah ke perut..*plaakk. Semampunya gue tetep pasang wajah stay cool, dan balik membalas senyumannya.
Mmmmm..Tapi itu dulu, sekarang dia udah punya pacar. Gue seneng sekaligus sedih. Seneng karena gue liat dia bahagia dengan cewek barunya. Sedih karena dia gak pernah contact gue lagi L. Mau sms duluan, takut gak dibales. Iya! Gue emang pengecut! Gue berharap semoga dia dengan pacarnya sekarang gak berjodoh.

#dearGOD : Jika dia berjodoh dengan orang lain, maka jadikanlah aku orang lain itu J. Terimakasih Tuhan..

Sebenernya gue juga nggak mau terlalu berharap lebih sama dia. Masih banyak orang yang sayang sama gue. Seiring berjalannya waktu, gue yakin perasaan ini ke dia bakalan pudar dengan sendirinya.Capek juga gue galau mikiran dia mulu tiap malem sebelum tidur =D. Menguras emosi tau.

Well.. gue rasa cerita ini udah bagus.Bagus untuk dijelek – jelekin tepatnya^^ Makasih udah mau baca. Semoga kalian dapat banyak pahala.

Cinta Itu Kayak #blablabla

Cinta itu kayak pocong, bisa loncat2 dari satu hati ke hati yang lain.
Cinta itu kayak sundelbolong, depannya aja mulus tapi di belakang....*pikir aja sendiri.
Cinta itu kayak tuyul, kalo nggak ada duit ya nggak bisa jalan.
Cinta itu kayak tengkorak, meski bisa disatukan tapi gampang berantakan.
Cinta itu kayak jelangkung, dateng nggak dijemput pulang nggak dianter.
Cinta itu kayak kuntilanak, kalo nggak kuat nahan diri pasti deh ujung2nya gendong anak =D
Cinta itu kayak sosis. So Nice ! So Good !
Cinta itu kayak makanan tanpa bahan pengawet. Cepet kadaluarsa.
Cinta itu kayak sampah non organik, butuh waktu lama untuk menghancurkannya.
Cinta itu kayak peluru. Sekali nancep ke hati, sakitnya itu luar biasa.
Cinta itu kayak upil. Udah susah payah dicari, namun akhirnya dibuang sia – sia.
Cinta itu kayak kentut. Ditahan sakit, dikeluarin malu.
Cinta itu kayak angin. Bisa dirasakan, tapi nggak bisa diliat.
Cinta itu kayak badut. Membawa keceriaan dikala sedih.
Cinta itu kayak kopi. Segar diluar, tapi pahit didalam.
Cinta itu kayak es krim coklat. Bikin mood naik 100%.
Cinta itu kayak angkot. Kadang ada yang nggak kebagian.
Cinta itu kayak permen karet. Awalnya aja yang manis, lama2 rasanya pahit.
Cinta itu kayak tugas kuliah. Ditinggal tidur kepikiran, dikerjain gak selese2.
Cinta itu kayak awan. Putih, bersih, suci.
Tapi yang jelas..
Cinta itu kayak KAMU ^___^ Ganteng, smart, manis, ngangenin, & bisa bikin aku melting tiap kali papasan/ketemu KAMU #eeaaaaaa