Ini kisah nyata dari temenku..
Cerita dimulai.. *cekidot
Janji. Bukankah harus ditepati?. Dan taruhan tak akan pernah memuaskan jika tidak menang. Sekarang ayo kita pikirkan caranya untuk menang.
Aku menyukainya. Lebih dulu dari wanita itu. Tapi aku harus menerima bahwa perempuan itulah yang memilikinya. Lama, butuh waktu aku untuk melupakannya. Tapi aku tak pernah benar-benar bisa melupakan ‘dia’. Seorang yang baru kukenal. Anggap saja namanya Wawan.
Mereka putus. Gak pernah kubayangkan hal ini terjadi. Seharusnya mereka putus tidak ketika kami masih bersama dalam satu kelas. Tapi sayangnya aku harus menerima keputusan mereka. Walaupun dalam hati aku merasa sia-sia melepaskan ‘dia’.
Aku tak yakin dia melupakan perasaannya pada mantannya. Itulah keyakinanku ketika kutanyakan padanya. Dia hanya diam, dan mengalihkan topik. Aku yakin sewaktu putus dari pihaknya merasa keberatan, tapi tak ada perasaan yang bisa dipaksakan. Termasuk perasaannya pada sang mantan.
Aku membuat keputusan bodoh. Aku yakin ini tak akan pernah benar-benar bermasalah. Aku berani taruhan bahwa aku tak akan pernah berpacaran sampai aku berumur 17 tahun bahkan sebelum aku berumur 16 tahun. Dengan orang yang sudah kuanggap adik di eskul ku. Dia setahun lebih muda. Sebaya dengan seorang playboy yang sempat dekat denganku.
Dia playboy. Seorang yang sudah punya pacar tapi masih mendekatiku. Aku sebisanya bersikap biasa saja. Yang dimaksudkan biasa adalah bersikap canggung satu sama laiin. Aku tak pernah benar-benar menyukainya. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Tapi kedekatanku dengannya berakhir begitu saja. Dan aku sempat merasa kehilangan. Setelah sekian lama, aku tak pernah berhhubungan lagi dengannya. Entah kenapa saat ini aku masih canggung dengannya.
Bodoh. Aku tau aku bodoh. Kalau aku tahu ini akan terjadi aku tak akan membuat taruhan bodoh itu. Aku tak tahu dia menyukaiku. Tak pernah terpikir bahwa dia bisa menyukai gadis seprti aku dan tak pernah kubayangkan dimana perasaan ini akhirnya terbalaskan, dia sampai menembakku dua kali, akhin November dan pertengahan Desember. Tapi dibalik itu aku harus berpikir bagaiman harus memenangkan taruhan itu. Ya, aku memang serakah. Ingin memenangkan keduanya. Namun apa yang bisa kulakukan selain memenangkan keduanya. Mengalah? Oh, itu bukan sifatku.
Sekarang aku berputar-putar di jalan ini. Tak pernah berujung karena aku masih bimbang pada keduanya.
Seperti dongeng hidupku tiba-tiba tertimpa masalah percintaan yang rumit. Juniorku yang kuajak taruhan ternyata menyukaiku. Walaupn dia tak pernah bilang tapi aku tahu dari gerakgeriknya. Suatu hari kami berbicara tentang hubunganku dengan Wawan. Aku bersikeras mengatakan bahwa aku belum berpacaran dengannya, tapi dia tak dengarkan. Kemudian dia mendiamkanku begitu saja. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Secara tidak sengaja aku juga tahu dia sudah menghapus nomorku dari kontaknya, meremove ku di akun fb-nya. Sungguh keterlaluan. Stelah itu tiba-tiba dia memintaku untuk tidak mengenalnya lagi, memintaku untuk melupakan taruhan itu, memintaku untuk tidak menghubungiku sampai dia menemukan orang yang bisa menggantikan aku.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku bingung. Awal januari seperti ledakan bom Nagasaki dan Hiroshima otak dan hatiku harus mempertimbangkan hal ini lebih keras. Wawan sudah menyerah untuk menungguku dan saat itu masih mengharapkan aku memilih keputusan yang terbaik.
Akhirnya aku menerimanya.
Aku resmi berpacaran dengannya walaupun masih dalam keraguan. Tapi aku tak ragu lagi setelah aku sadar ada laki-laki yang begitu menyayangiku. Aku hanya kurang bersyukur, wanita sepertiku mendapat laki-laki seperti dia.
Selama lebih dari dua bulan si Junior mendiamkanku, dia akhirnya menghubungiku lewat sms lagi. Aku tak mengerti. Akhirnya kudengar dia punya pacar baru. Teman sekelasnya. Perlahan akhirnya di kembali lagi seperti dulu. Dengan sikap seolah-olah melupakan segala kebodohan yang aku buat dahulu.
Akhir yang bahagia bukan? Semuanya indah pada waktunya kan?